📖 Suamiku Presider yang Kejam
Makan Siang Bersama Rekan
Setelah menerima laporan detektif yang mengarah ke rumah kontrakan Ayu, Vera Santoso duduk di meja kerjanya, menatap layar ponsel dengan senyum tipis. Informasi itu bagaikan kunci yang membuka pintu kecurigaan. Dia tahu bahwa 'Dewi' adalah Ayu, dan dia tidak akan membiarkan wanita itu bersembunyi lebih lama lagi. Vera menyimpan ponselnya, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela kantornya.
Pemandangan kota Jakarta yang padat tidak mampu meredakan gejolak dalam hatinya. Dia harus bertindak cepat. Dia memikirkan rencana untuk mendekati rekan kerja Ayu, Sari, yang tampaknya dekat dengan 'Dewi'. Dengan informasi yang cukup, dia bisa menghancurkan Ayu dan merebut kembali tempatnya di sisi Rendra.
Vera mengambil tasnya dan berjalan keluar kantor, menuju restoran dekat kantor yang biasa menjadi tempat makan siang karyawan. Dia sudah mengatur pertemuan dengan Sari, berpura-pura ingin mengenal lebih dekat karyawan baru yang berbakat. Di restoran, Sari sudah menunggu dengan perasaan gugup. Vera tersenyum ramah, menyapa Sari dengan hangat.
'Terima kasih sudah mau bertemu, Sari. Aku dengar kamu sangat dekat dengan Dewi.' Sari mengangguk, sedikit canggung. 'Iya, Bu Vera. Kami sering bekerja sama.' Vera memesan makanan, lalu mulai menggali informasi dengan halus.
Vera mengaduk tehnya perlahan, matanya tajam mengamati Sari yang tampak tidak curiga. 'Dewi itu orangnya seperti apa, Sari? Aku penasaran, dia sangat pendiam dan misterius.' Sari tersenyum, mencoba bersikap netral. 'Dewi itu pekerja keras, Bu.
Dia sangat teliti dan jarang bicara soal pribadi. Bahkan saat istirahat, dia lebih suka di meja kerjanya daripada bergaul.' Vera mengangguk, berpura-pura tertarik. 'Oh, begitu. Kenapa dia begitu tertutup?
Apa dia punya masalah?' Sari menggeleng. 'Aku tidak tahu, Bu. Mungkin dia memang orangnya pendiam. Tapi dia baik, selalu membantu kalau ada yang kesulitan.' Vera menyandarkan punggungnya, mencoba pendekatan lain.
'Kamu tahu, dia mengingatkanku pada seseorang. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Mungkin kamu bisa cerita lebih banyak tentang dia?' Sari merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan yang terus-menerus, tapi karena Vera adalah sekretaris direktur utama, dia merasa harus menjawab. 'Dia sering menolak ajakan kumpul di luar kantor, Bu.
Katanya ada urusan keluarga. Tapi dia tidak pernah menjelaskan detailnya.' Vera tersenyum sinis di dalam hati. 'Urusan keluarga? Mungkin dia menyembunyikan sesuatu.' Dia melanjutkan, 'Apakah dia pernah bercerita tentang masa lalunya?
Atau tentang keluarganya?' Sari menggeleng. 'Tidak pernah, Bu. Dia sangat menjaga privasi. Bahkan ketika kami mengadakan acara ulang tahun kantor, dia hanya datang sebentar lalu pulang.' Vera merasa informasi ini semakin memperkuat kecurigaannya.
Dia berpura-pura peduli, 'Kasihan sekali. Mungkin dia kesepian. Aku ingin membantunya. Bisa tolong sampaikan bahwa aku ingin berkenalan dengannya?' Sari ragu, tapi mengangguk.
'Baik, Bu. Nanti aku sampaikan.' Di kejauhan, Ayu yang sedang makan siang di restoran yang sama melihat Vera dan Sari berbincang akrab. Jantungnya berdebar. Dia tahu Vera adalah orang yang berbahaya.
Ayu mencoba tetap tenang, tapi pikirannya berpacu. Apa yang mereka bicarakan? Apakah Vera mencurigainya? Ayu memutuskan untuk tidak mendekat, tapi memperhatikan dari jauh.
Dia melihat Vera tertawa dan Sari terlihat canggung. Ayu menyadari bahwa dia harus lebih berhati-hati. Dia tidak bisa membiarkan Vera menghancurkan hidupnya lagi. Setelah selesai makan, Ayu kembali ke kantor dengan perasaan waspada.
Dia bertekad untuk menjaga jarak dari Vera dan tidak memberikan informasi pribadi apa pun. Sore itu, Ayu mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi pikirannya terus tertuju pada pertemuan Vera dan Sari. Dia tidak bisa menghilangkan rasa curiga. Di meja kerjanya, dia membuka laporan keuangan yang sedang dia kerjakan, tapi matanya kosong menatap layar komputer.
Dia berpikir tentang langkah selanjutnya. Dia harus melindungi anaknya dan juga kariernya. Dia tidak bisa membiarkan Vera membongkar identitasnya. Ayu memutuskan untuk tidak bereaksi berlebihan.
Dia akan tetap tenang dan profesional. Dia tidak akan memberikan kesempatan bagi Vera untuk menyerangnya. Dia juga akan lebih selektif dalam bergaul dengan rekan kerja, terutama Sari. Dia tidak ingin Sari tanpa sadar menjadi alat Vera.
Saat jam pulang tiba, Ayu membereskan mejanya. Dia berjalan menuju lift, berharap bisa segera pulang dan menenangkan diri. Di dalam lift, dia bertemu dengan beberapa rekan kerja yang mengajaknya ngobrol. Ayu menjawab singkat, berusaha terlihat normal.
Sesampainya di lantai dasar, dia berjalan menuju pintu keluar. Di luar, udara sore terasa panas. Ayu menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan kecemasannya. Dia berjalan menuju halte bus, menunggu kendaraan yang akan membawanya pulang.
Di dalam bus, dia memikirkan tentang Vera. Dia tahu Vera tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Ayu harus siap menghadapi segala kemungkinan. Dia teringat pada Rendra.
Meskipun hubungan mereka dingin, dia tidak bisa membiarkan Vera menghancurkan apa yang telah dia bangun. Dia harus tetap kuat untuk anaknya. Setibanya di rumah kontrakan, Ayu disambut oleh senyum anaknya yang masih kecil. Anaknya berlari memeluknya, dan Ayu merasakan kehangatan yang menenangkan.
Dia tersenyum, melupakan sejenak kekhawatirannya. Dia menggendong anaknya dan masuk ke dalam rumah. Malam itu, setelah anaknya tidur, Ayu duduk di ruang tamu sambil memikirkan langkah selanjutnya. Dia membuka ponselnya dan melihat pesan dari Sari.
'Bu Dewi, tadi Bu Vera menanyakan tentang kamu. Dia bilang ingin berkenalan lebih dekat. Apa kamu mau?' Ayu menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Dia tidak ingin bertemu dengan Vera.
Dia tahu itu akan membahayakan penyamarannya. Tapi dia juga tidak bisa menolak secara terang-terangan. Dia membalas, 'Terima kasih, Sari. Tapi aku sedang sibuk.
Mungkin lain kali.' Dia menghela napas. Dia harus mencari cara untuk menghindari Vera tanpa menimbulkan kecurigaan. Keesokan harinya, Ayu berusaha menghindari area sekitar kantor Vera. Dia tetap fokus pada pekerjaannya, tapi hatinya tidak tenang.
Dia tahu Vera tidak akan menyerah begitu saja. Di sore hari, saat Ayu sedang berjalan menuju ruang rapat, dia melihat Vera berdiri di dekat pintu masuk, berbicara dengan Sari. Ayu mempercepat langkahnya, berusaha tidak menarik perhatian. Namun, Vera melihatnya dan tersenyum.
Ayu membalas dengan anggukan kaku, lalu segera masuk ke ruang rapat. Setelah rapat selesai, Ayu kembali ke mejanya. Dia melihat Sari mendekatinya dengan wajah cemas. 'Bu Dewi, maaf, tadi Bu Vera memintaku untuk mengatur pertemuan denganmu.
Dia bilang dia ingin berkenalan secara pribadi.' Ayu merasakan dadanya berdebar. Dia mencoba tetap tenang. 'Kapan?' tanyanya. Sari menjawab, 'Dia bilang besok siang, di restoran dekat kantor.
Dia ingin mengobrol santai.' Ayu menghela napas. Dia tidak bisa menolak tanpa alasan yang jelas. Dia harus menghadapinya. 'Baiklah, aku akan datang,' katanya dengan berat hati.
Sari tersenyum lega. 'Terima kasih, Bu. Aku akan memberitahunya.' Setelah Sari pergi, Ayu menatap layar komputernya dengan pandangan kosong. Dia tahu ini adalah jebakan.
Vera pasti ingin mengorek informasi atau bahkan menghancurkannya. Ayu harus bersiap. Dia tidak akan membiarkan Vera mengendalikannya. Dia akan datang, tapi dengan strategi.
Dia akan menjaga jarak dan tidak memberikan informasi pribadi apa pun. Dia akan berpura-pura menjadi Dewi yang misterius dan tertutup. Dia akan membuat Vera frustrasi. Vera memberi tahu Sari bahwa ia ingin berkenalan lebih dekat dengan 'Dewi' karena 'mengingatkannya pada seseorang', membuat Ayu semakin waspada.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!