Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Gosip di Ruang Rapat

571 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Pagi itu, Ayu melangkah masuk ke lobi PT Bumi Sejahtera dengan perasaan campur aduk. Semalam, pengumuman Rendra tentang acara perusahaan masih terngiang di kepalanya. Namun, begitu ia melewati pintu kaca, bisik-bisik langsung menyambutnya. Beberapa rekan kerja menoleh, lalu berbisik di belakang tangannya. Ayu mencoba mengabaikan, tapi telinganya menangkap potongan kalimat, "...istri simpanan presdir Hartawan Group..." Jantungnya berdebar. Ia menunduk, mempercepat langkah menuju lift. Di dalam lift, ia menarik napas dalam-dalam. Ia harus tenang. Ia tidak bisa membiarkan gosip ini menghancurkan karier yang baru saja ia bangun. Di ruang rapat, Ayu duduk di kursi dekat jendela. Tumpukan laporan keuangan di depannya, dan ia sudah menyiapkan diri. Namun, tatapan sinis dari beberapa kolega membuatnya tidak nyaman. Ketika gilirannya mempresentasikan laporan, ia berdiri dengan mantap. "Laporan ini menunjukkan peningkatan efisiensi sebesar lima belas persen," ujarnya, suaranya tegas. Ia memaparkan data dengan detail, menunjukkan penguasaan materi. Namun, di tengah presentasi, seorang kolega, Budi, menyela dengan nada sinis, "Wah, hebat sekali. Apa ini hasil kerja keras atau... ada bantuan dari pihak tertentu?" Ayu menahan emosi. Ia menjawab dengan tenang, "Semua data saya olah sendiri, Pak Budi. Silakan periksa kembali." Budi tersenyum tipis, tapi tidak membantah. Saat rapat berlanjut, ponsel Ayu bergetar. Ia melirik layar, dan jantungnya hampir berhenti. Ada pesan berisi foto dirinya di lobi Hartawan Group beberapa hari lalu. Pesan itu tanpa nama, hanya teks: "Istri simpanan ternyata bekerja di sini?" Ayu menelan ludah. Ia menatap layar, lalu menaruh ponselnya. Ia harus tetap fokus. Ia melanjutkan presentasi, meski pikirannya kacau. Setelah rapat selesai, beberapa rekan menatapnya dengan curiga. Ayu mengumpulkan berkasnya, berusaha terlihat tenang. Ia tahu ini ulah Vera. Wanita itu pasti menyebarkan gosip untuk menjatuhkannya. Ayu berjalan menuju mejanya, mencoba mengabaikan tatapan tajam. Namun, langkahnya terhenti ketika atasan langsungnya, Pak Hadi, memanggilnya. "Ayu, bisa ke ruangan saya?" Ayu mengangguk, mengikuti Pak Hadi ke ruangan pribadinya. Di dalam, Pak Hadi menutup pintu. Ia duduk di kursinya, menatap Ayu dengan serius. "Ayu, saya dengar banyak gosip tentang Anda akhir-akhir ini," katanya. Ayu menunduk, merasa cemas. "Saya tidak tahu apa yang Anda dengar, Pak. Tapi saya bisa menjelaskan." Pak Hadi menghela napas. "Saya tidak peduli dengan gosip. Yang penting, kinerja Anda. Laporan tadi sangat bagus. Namun, saya perlu bertanya langsung." Ayu mengangkat wajahnya, menatap Pak Hadi. "Apa pun pertanyaannya, saya akan jawab dengan jujur." Pak Hadi menatapnya lama, lalu berkata, "Apakah Anda mengenal Presdir Hartawan Group?" Ayu terkejut. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang begitu cepat. Ia menelan ludah, mencoba berpikir cepat. Ia tidak bisa berbohong, tapi juga tidak bisa mengaku. "Saya... saya pernah bertemu beliau, Pak. Tapi tidak ada hubungan khusus." Pak Hadi mengangguk pelan. "Baiklah. Saya percaya Anda. Tapi hati-hati, gosip bisa merusak karier. Jaga sikap Anda." Ayu mengangguk lega. "Terima kasih, Pak. Saya akan berhati-hati." Ia keluar dari ruangan, merasa sedikit tenang. Namun, ia tahu Vera tidak akan berhenti. Ia harus mencari cara untuk melindungi dirinya. Ayu kembali ke mejanya, mencoba fokus pada pekerjaan. Namun, pikirannya terus mengingat foto itu. Ia harus mencari tahu bagaimana Vera mendapatkannya. Ia membuka ponselnya, melihat pesan itu lagi. Tidak ada nomor pengirim. Ia menarik napas, berusaha tenang. Ia tahu ia harus waspada. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal: "Kau pikir kau bisa bersembunyi?" Ayu menatap layar, jantungnya berdebar. Ia tidak membalas. Ia hanya bisa berharap ini tidak akan berakhir buruk. Atasan Ayu memanggilnya dan bertanya, 'Apakah Anda mengenal Presdir Hartawan Group?'
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!