Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Gaji Pertamaku

530 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Ayu masih memegang ponselnya dengan erat, pesan dari Vera itu berulang kali terbayang di kepalanya. 'Kita pasti akan sering bertemu, Bu Ayu.' Kalimat itu terasa seperti ancaman, bukan sekadar peringatan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan. Namun, getaran ponsel kembali terasa. Sebuah pesan baru masuk, dan Ayu hampir menjatuhkan ponselnya. Ternyata itu dari PT Bumi Sejahtera, pemberitahuan bahwa ia diterima bekerja dan diminta segera melapor. Perasaan lega dan cemas bercampur menjadi satu. Ia tersenyum tipis, tetapi hatinya masih diliputi kekhawatiran. Ia harus segera bersiap untuk hari pertamanya besok. Ia menatap cermin, memastikan tidak ada yang mencurigakan dari penampilannya. Ia mengenakan hijabnya dengan rapi, bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun mengenalinya. Ia berbisik pada dirinya sendiri, 'Aku pasti bisa.' Keesokan harinya, Ayu tiba di PT Bumi Sejahtera dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan blazer hitam yang ia beli dari tabungannya, berusaha terlihat profesional. Di lobi, ia disambut oleh resepsionis yang ramah. 'Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?' Ayu tersenyum, 'Saya Ayu, manajer keuangan baru. Saya ada janji dengan Bapak Hadi.' Setelah diantar ke ruang kerjanya, Ayu mulai beradaptasi. Ia diberikan tumpukan dokumen yang harus ia pelajari. Ia bekerja dengan cekatan, menganalisis laporan keuangan dan membuat proyeksi. Rekan-rekannya tampak ramah, tetapi Ayu tetap waspada. Ia tidak ingin ada yang tahu identitas aslinya. Di sela-sela pekerjaannya, ia menerima pesan dari Vera: 'Selamat bekerja, Bu Ayu. Semoga sukses.' Ayu menggenggam ponselnya, merasa diawasi. Ia mencoba mengabaikannya dan fokus pada pekerjaan. Namun, rasa cemas terus menghantuinya. Di rumah, Rendra mulai curiga. Ia melihat Ayu sering keluar rumah tanpa penjelasan. Ia memerintahkan asistennya untuk memantau pergerakan Ayu. Sementara itu, Ayu berhasil menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Di akhir hari, ia menerima slip gaji pertamanya. Ia memandangi angka di slip itu, merasa bangga dan haru. Ia menyimpan uang itu di buku tabungan rahasia yang ia sembunyikan di balik lemari di kamarnya. Ia tidak berniat mengirimkannya ke keluarga, karena takut menimbulkan kecurigaan. Ia hanya ingin memiliki pegangan finansial sendiri. Sore harinya, Ayu pulang ke rumah dengan perasaan lega. Namun, begitu memasuki ruang tamu, ia melihat Rendra duduk di sofa dengan wajah dingin. Rendra menatapnya tajam, membuat Ayu merasa tidak nyaman. 'Kau habis dari mana?' tanya Rendra dengan nada selidik. Ayu berusaha tenang, 'Ah, aku tadi jalan-jalan sebentar, beli kebutuhan sehari-hari.' Rendra mengangguk, tetapi matanya masih mencurigai. 'Aku lihat kau sering keluar akhir-akhir ini. Apa ada yang tidak kau ceritakan?' Ayu menggeleng, 'Tidak ada, Pak. Hanya ingin mencari udara segar.' Rendra berdiri, mendekati Ayu. 'Ingat, kau istri kontrakku. Jangan buat masalah.' Ayu menunduk, merasa tertekan. Namun, di dalam hatinya, ia bertekad untuk tidak membiarkan Rendra mengendalikannya. Ia merasa memiliki kekuatan baru setelah mendapatkan gaji pertamanya. Ia bisa mandiri, meskipun harus merahasiakannya. Setelah Rendra pergi, Ayu masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia mengeluarkan buku tabungannya, memandanginya dengan bangga. Ini adalah langkah pertamanya untuk membuktikan bahwa ia berharga. Ayu menyimpan buku tabungannya kembali ke balik lemari. Ia merasa sedikit tenang, tetapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Ia membuka pesan itu, dan jantungnya berdebar kencang. Isinya membuatnya membeku. Saat Ayu pulang, Rendra menunggu di ruang tamu dan bertanya, 'Kau habis dari mana?'
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!