Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Undangan Makan Malam

567 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Ayu menghela napas lega setelah keluar dari ruang rapat. Atasannya, Pak Hadi, tampak percaya padanya, tapi ia tahu pengawasan semakin ketat. Ia berjalan menuju mejanya, mencoba menenangkan diri. Namun, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Rendra: "Malam ini, hadir di acara makan malam Hartawan Group. Jangan menolak." Ayu menatap layar, jantungnya berdebar. Ia tidak bisa menolak perintah itu, tapi ia juga tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Ia membalas singkat, "Baik." Setelah bekerja, ia pulang ke rumah kontrakannya. Ia membuka lemari, mencari gaun yang pantas. Ia memilih gaun panjang berwarna navy dengan lengan panjang, dan hijab sutra senada. Ia ingin terlihat elegan, tapi tidak mencolok. Ia bertekad untuk menjaga jarak dari Rendra dan tidak menunjukkan kelemahan apa pun. Di dalam taksi, ia merasakan mual, tapi ia menahannya. Ia harus kuat. Sesampainya di ballroom hotel mewah, Ayu disambut oleh pelayan dengan senyum ramah. Lampu gantung berkilauan, dan tamu-tamu berdandan rapi. Ayu berjalan masuk, mencoba berbaur. Ia melihat Rendra di kejauhan, sedang berbincang dengan beberapa pejabat. Ayu memalingkan wajah, berusaha tidak menarik perhatian. Ia mengambil segelas air mineral dari meja, berdiri di dekat jendela. Beberapa menit kemudian, Vera muncul di sampingnya, tersenyum manis. "Selamat malam, Ayu. Ternyata Anda datang juga," kata Vera dengan nada mengejek. Ayu tersenyum tipis. "Selamat malam, Bu Vera." Vera memandang gaun Ayu, lalu berkata, "Gaun yang bagus. Tapi sayang, Anda terlihat pucat. Apa Anda tidak enak badan?" Ayu menggeleng. "Saya baik-baik saja." Vera mengangkat gelas anggurnya, lalu dengan gerakan cepat, ia "tidak sengaja" menumpahkan anggur merah ke gaun Ayu. Ayu terkejut, melompat mundur, tapi sudah terlambat. Noda merah menyebar di gaunnya. Beberapa tamu menoleh, berbisik-bisik. Vera berpura-pura panik. "Oh, maaf! Saya sangat ceroboh!" Ayu menahan napas, mencoba tetap tenang. Ia tidak ingin memberi Vera kepuasan melihatnya marah. "Tidak apa-apa, Bu. Saya akan membersihkannya," kata Ayu dengan suara mantap. Ia berbalik, berjalan menuju kamar kecil. Di belakangnya, ia mendengar Rendra berkata, "Vera, apa yang terjadi?" Ayu tidak menoleh. Ia terus berjalan, merasakan tatapan Rendra di punggungnya. Di kamar kecil, Ayu menatap noda di gaunnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia membuka keran, membasahi tisu, dan membersihkan noda itu sebisanya. Namun, noda itu membandel. Ayu menghela napas, menyerah. Ia akan tetap memakainya, meski tidak sempurna. Saat ia hendak keluar, pintu terbuka. Rendra berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Ayu menunduk, tidak ingin menatap matanya. "Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih." Rendra mendekat, mengulurkan tangan, mungkin ingin menyentuh bahunya, tapi Ayu mundur selangkah. "Saya bisa mengurus diri sendiri," katanya tegas. Rendra menghentikan gerakannya, menatapnya lama. "Kau berbeda dari yang kukira," katanya pelan. Ayu mengangkat wajahnya, menatap Rendra. "Maksud Anda?" Rendra menggeleng. "Tidak apa-apa. Kau bisa pulang lebih awal jika mau. Aku akan menyuruh sopir mengantarmu." Ayu menggeleng. "Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri." Ia berjalan melewati Rendra, keluar dari kamar kecil. Ia kembali ke ballroom, berusaha tersenyum pada beberapa tamu yang menatapnya. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan. Namun, di dalam hatinya, ia merasa lega karena berhasil menjaga martabatnya. Ia tidak membiarkan Vera mempermalukannya. Setelah beberapa saat, Ayu memutuskan untuk pergi lebih awal. Ia berjalan menuju kamar kecil lagi untuk memastikan penampilannya rapi. Saat ia mendekati pintu, ia mendengar suara Vera dari dalam, berbicara di telepon dengan nada penuh tekanan. Saat Ayu membersihkan diri di kamar kecil, ia mendengar Vera berbicara di telepon, 'Pastikan dia tidak pernah kembali ke kantor itu.'
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!