📖 Suamiku Presider yang Kejam
Pertemuan Tak Terduga
Ayu masih terkejut mendengar kata-kata Rendra, tetapi dia menguatkan diri. Keesokan harinya, dia bersiap untuk wawancara di PT Bumi Sejahtera. Dia mengenakan hijab dan pakaian longgar untuk menyembunyikan perutnya yang mulai membesar. Dia berdoa semoga tidak bertemu dengan Rendra atau Vera.
Pagi itu, Ayu berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Wajahnya pucat, tetapi matanya berbinar tekad. Dia menarik napas dalam-dalam, mengingat pesan Rendra semalam: 'Istri yang tidak akan menyusahkan, itu yang kubutuhkan.' Kata-kata itu masih terngiang, menusuk hatinya. Namun, dia tidak akan membiarkan dirinya larut dalam kesedihan.
Dia harus mandiri, demi dirinya dan bayi yang dikandungnya. Ayu merapikan hijabnya, memastikan tidak ada helai rambut yang terlihat. Dia memilih gamis berwarna abu-abu yang longgar, menyembunyikan perutnya yang mulai membuncit. Dia berdoa dalam hati, memohon agar wawancara berjalan lancar dan tidak ada yang mengenalinya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Ayu melangkah keluar kamar. Dia menoleh sekilas ke arah ruang kerja Rendra yang tertutup, lalu berjalan cepat menuju pintu depan. Dia tidak ingin bertemu dengan suaminya itu. Di luar, mobil sudah menunggu.
Ayu masuk dan memberikan alamat PT Bumi Sejahtera kepada sopir. Selama perjalanan, dia terus menenangkan diri. Dia mengulang-ulang jawaban untuk pertanyaan yang mungkin diajukan. Dia tidak boleh gagal.
Setibanya di lobi, Ayu tertegun. Suasana kantor itu modern dan mewah, jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa dia kunjungi. Dia berjalan menuju meja resepsionis, tetapi tiba-tiba pandangannya menangkap sosok yang dikenalnya. Rendra sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi di dekat lift.
Jantung Ayu berdebar kencang. Dia segera membelokkan langkahnya, bersembunyi di balik pilar besar di dekat pintu masuk. Dia menunggu beberapa saat, berharap Rendra tidak melihatnya. Dengan jantung yang masih berdebar, Ayu berjalan cepat ke arah pintu samping yang menuju ruang wawancara.
Dia tidak berani menoleh ke belakang. Dia hanya ingin segera keluar dari area itu. Ayu berjalan cepat menyusuri koridor, mencoba mengatur napas. Dia tidak percaya Rendra ada di sini.
Apa yang dia lakukan di PT Bumi Sejahtera? Apakah dia tahu tentang lamarannya? Ayu menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran buruk itu. Dia harus fokus pada wawancara.
Dia berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan 'Ruang Wawancara'. Dia mengetuk pelan, lalu membuka pintu. Di dalam, seorang wanita paruh baya berambut pendek sedang duduk di belakang meja. Wanita itu tersenyum ramah dan mempersilakan Ayu duduk.
'Selamat pagi, Ibu Wulan? Saya Ibu Sari, HRD PT Bumi Sejahtera.' Ayu mengangguk, mencoba tersenyum. 'Selamat pagi, Bu. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.' Wawancara berlangsung sekitar tiga puluh menit.
Ibu Sari mengajukan berbagai pertanyaan tentang pengalaman dan kemampuan Ayu. Ayu menjawab dengan tenang, menunjukkan pengetahuannya tentang akuntansi. Dia juga menceritakan pengalamannya bekerja di perusahaan sebelumnya, meskipun dia harus menyembunyikan fakta bahwa dia adalah istri Rendra. Di akhir wawancara, Ibu Sari tampak terkesan.
'Baiklah, Ibu Wulan. Kami akan mengabari Anda dalam minggu ini. Terima kasih sudah datang.' Ayu mengucapkan terima kasih dan berdiri. Dia merasa lega, tetapi juga cemas.
Dia berharap tidak ada yang melihatnya. Saat dia berjalan keluar dari ruang wawancara, dia melihat sekilas sosok Vera di ujung koridor. Vera sedang berbicara dengan seorang pria, tetapi matanya menatap ke arah Ayu. Ayu menunduk, berusaha menghindari kontak mata.
Dia berjalan cepat menuju lift, berharap bisa segera meninggalkan gedung itu. Namun, saat lift terbuka, dia melihat Vera sudah berdiri di sana. Vera tersenyum sinis. 'Oh, Bu Ayu?
Ternyata Anda di sini. Sedang apa? Melamar pekerjaan?' Ayu terkejut, tetapi mencoba tetap tenang. 'Saya hanya mengantar berkas untuk seorang teman,' jawabnya berbohong.
Vera mengangkat alis, tidak percaya. 'Begitu ya? Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa lagi, Bu Ayu.' Vera masuk ke lift, dan pintu tertutup.
Ayu menghela napas lega, tetapi hatinya tidak tenang. Dia tahu Vera tidak akan tinggal diam. Dia harus segera pergi dari sini. Ayu berjalan keluar gedung, menuju mobil yang menunggu.
Dia duduk di kursi belakang, menutup mata, mencoba menenangkan diri. Dia berharap Vera tidak tahu apa-apa. Namun, dia tidak menyadari bahwa Vera telah memotretnya dari kejauhan. Ayu tiba di rumah dengan perasaan campur aduk.
Dia lega wawancaranya berjalan lancar, tetapi cemas karena Vera melihatnya. Dia masuk ke kamar dan melepas hijabnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia tidak bisa membiarkan Vera menghancurkan rencananya.
Dia harus lebih berhati-hati. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ayu membuka pesan itu, dan jantungnya langsung berdebar kencang.
Isinya: 'Kita pasti akan sering bertemu, Bu Ayu.' Ayu menggenggam ponselnya, jantung berdebar. Ayu menatap layar ponselnya, membaca pesan itu berulang kali. Siapa yang mengirimnya? Apakah Vera?
Atau seseorang yang lain? Dia merasa terancam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah wawancara, Ayu menerima pesan dari Vera: 'Kita pasti akan sering bertemu, Bu Ayu.' Ayu menggenggam ponselnya, jantung berdebar.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!