📖 Suamiku Presider yang Kejam
Hampir Ketahuan
Ayu masih terbayang-bayang ancaman Vera yang didengarnya di acara Hartawan Group. Kini, saat bekerja di Bumi Sejahtera, ia harus tetap waspada. Ia duduk di mejanya, mencoba fokus pada laporan keuangan yang harus diselesaikan sebelum tenggat. Namun, pikirannya melayang pada kata-kata Vera yang penuh kebencian.
'Pastikan dia tidak pernah kembali ke kantor itu.' Ayu menghela napas, menguatkan hati. Ia tidak akan membiarkan Vera mengusirnya dari pekerjaan yang ia perjuangkan. Ia menatap layar komputer, jari-jarinya menari di atas keyboard, berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang familiar.
Ia menoleh, dan jantungnya hampir berhenti. Rendra Hartawan berdiri di pintu masuk kantor, berbicara dengan direktur utama Bumi Sejahtera. Ayu panik. Ia tidak bisa ketahuan bekerja di sini.
Ia harus bersembunyi. Ayu segera berdiri, mengambil map berisi dokumen penting, dan berjalan cepat menuju ruang arsip di belakang kantor. Ia membuka pintu ruang arsip yang sempit dan gelap, masuk, dan menutup pintu perlahan. Ia bersandar di dinding, mencoba menenangkan napasnya.
Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa mendengar percakapan Rendra dan direktur. Mereka membahas tentang akuisisi perusahaan kecil, tetapi Ayu tidak terlalu memperhatikan. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana bisa keluar dari ruangan ini tanpa ketahuan. Ia melihat sekeliling ruang arsip yang penuh dengan rak-rak berisi berkas.
Di sudut, ada tumpukan map yang tampak tidak teratur. Ayu berjongkok di balik rak, berharap tidak ada yang melihatnya. Namun, saat ia mencoba mengatur posisi, sikunya mengenai tumpukan map, dan map-map itu jatuh dengan suara berisik. Ayu menahan napas.
Suara itu pasti terdengar oleh Rendra dan direktur. Ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah ruang arsip. Ayu menutup matanya, berdoa agar tidak ketahuan. Pintu mulai terbuka.
Namun, tiba-tiba telepon Rendra berdering. Rendra berhenti, mengangkat teleponnya. 'Ya, Vera? Ada apa?' Ayu mendengar suara Vera di ujung telepon, meskipun tidak jelas.
Rendra mengerutkan kening, lalu berkata pada direktur, 'Maaf, saya harus pergi sebentar. Ada urusan mendesak.' Rendra berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan ruang arsip. Ayu menghela napas lega, tetapi ia tahu bahwa Vera sengaja menelepon untuk mengalihkan perhatian Rendra. Vera pasti tahu Ayu di sana.
Ayu menunggu beberapa saat, memastikan Rendra sudah pergi, lalu keluar dari ruang arsip dengan hati-hati. Ia kembali ke mejanya, mencoba terlihat sibuk. Namun, saat ia duduk, ia melihat selembar kertas di atas mejanya. Ia mengambilnya dan membaca tulisan tangan yang rapi: 'Kau tidak bisa bersembunyi selamanya.' Ayu merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Ia menatap kertas itu, mencoba menenangkan diri. Vera benar-benar licik. Ia tahu Ayu bekerja di sini, dan ia sengaja mengatur agar Rendra datang untuk menguji Ayu. Ayu melipat kertas itu dan menyimpannya di saku.
Ia tidak akan membiarkan ancaman itu membuatnya takut. Ia harus tetap tenang dan fokus pada pekerjaannya. Namun, ia juga sadar bahwa ia harus lebih berhati-hati. Ia tidak bisa membiarkan Vera mengetahui kehamilannya.
Ayu menatap layar komputer, mencoba menyelesaikan laporan yang tertunda. Namun, pikirannya terus terganggu oleh kejadian barusan. Ia teringat bagaimana Rendra menatapnya di acara makan malam, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Mungkin Rendra mulai curiga padanya.
Ayu menggeleng, membuang pikiran itu. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengetik dengan cepat, berusaha mengejar waktu. Setelah beberapa jam, ia berhasil menyelesaikan laporan dan mengirimkannya ke atasan.
Ia merasa lega, tetapi juga lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di pantry. Saat ia berjalan menuju pantry, ia bertemu dengan seorang rekan kerja yang tersenyum ramah. 'Ayu, kamu hebat sekali.
Laporanmu selalu rapi.' Ayu tersenyum tipis, berterima kasih. Namun, di dalam hatinya, ia merasa waspada. Ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Ia mengambil segelas air, menyesapnya perlahan.
Ia berharap hari ini cepat berlalu. Ayu kembali ke mejanya setelah istirahat singkat. Ia menatap tumpukan dokumen yang harus diselesaikan, tetapi matanya terus tertuju pada kertas ancaman yang ia simpan di saku. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
Namun, saat ia membuka laci meja untuk mengambil pulpen, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Ayu membaca catatan ancaman di mejanya, merasakan ketakutan yang mendalam.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!