Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Keputusan Berat

514 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Ayu menatap catatan ancaman di mejanya, jantung berdebar kencang. Tulisan tangan Vera yang tegas itu seperti pisau yang menusuk: 'Jangan coba-coba mendekati Rendra. Aku tahu rahasiamu.' Ia meremas kertas itu, merasakan dingin menjalar di punggung. Ia tidak bisa terus bersembunyi. Setelah menarik napas panjang, Ayu memutuskan untuk mengambil cuti akhir pekan dan pulang ke kampung halamannya. Ia ingin memberikan sebagian gaji pertamanya kepada ibunya, sebagai bentuk tanggung jawab dan pelarian dari tekanan di Jakarta. Meski berisiko, ia merasa ini adalah langkah yang harus diambil. Ayu tiba di kampung halamannya di Jawa Tengah pada Sabtu pagi. Rumah sederhana dengan dinding kayu itu masih sama seperti dulu. Ibunya, Bu Lastri, terkejut melihatnya. 'Ayu, kamu pulang? Kenapa tidak bilang?' Ayu tersenyum, memeluk ibunya erat. 'Kangen, Bu.' Ia mengeluarkan amplop berisi uang dari tasnya. 'Ini untuk Ibu, hasil kerja aku.' Bu Lastri menerima amplop itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca. 'Kamu kerja di mana, Nduk? Jangan sampai kamu melakukan hal yang tidak benar.' Ayu menggeleng, meyakinkan ibunya. 'Aku kerja di perusahaan, Bu. Tenang saja.' Namun, saat mereka berbincang, Ayu tidak bisa menahan tangis. Ia memeluk ibunya, menumpahkan semua beban yang ia pendam. 'Aku takut, Bu. Ada orang yang mengancamku.' Bu Lastri terkejut, tapi hanya bisa membelai rambut Ayu. Setelah melepas rindu, Ayu harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri acara amal yang diadakan perusahaannya. Ia berpamitan dengan berat hati. Sesampainya di Jakarta, Ayu mengenakan gaun sederhana dan berbaur dengan tamu lain. Namun, saat ia berjalan melewati kerumunan, ia melihat sosok Rendra di kejauhan. Ayu panik, berusaha menghindar. Ia menunduk, berjalan cepat ke arah lain. Namun, Rendra menoleh, seolah merasakan sesuatu. Matanya menelusuri kerumunan, mencari sosok yang familiar. Ayu bersembunyi di balik tiang, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa ketahuan. Namun, Rendra mulai berjalan ke arahnya. Ayu berhasil menghindari Rendra dengan bersembunyi di ruang belakang. Ia menghela napas lega, tapi hatinya masih berdebar. Ia berhasil memberikan uang kepada ibunya, dan itu membuatnya merasa sedikit lega. Namun, ia sadar bahwa ia harus lebih berhati-hati. Di ruang belakang, ia menenangkan diri, mencoba mengatur napas. Ia tidak bisa terus begini. Sementara itu, Rendra yang merasa curiga, terus memperhatikan sosok yang mirip Ayu. Ia tidak yakin, tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Ia bertanya kepada salah satu staf, 'Siapa wanita yang tadi lewat?' Staf itu menjawab, 'Tidak tahu, Pak. Mungkin tamu undangan.' Rendra mengangguk, tapi pikirannya tidak tenang. Ia merasa pernah melihat postur itu sebelumnya. Ayu, yang masih di ruang belakang, tidak tahu bahwa Rendra hampir mengenalinya. Ia hanya ingin segera pulang dan bersembunyi di kamarnya. Setelah memastikan aman, Ayu keluar dari ruang belakang dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, saat ia melewati lobi, ia melihat Rendra berdiri di dekat pintu, sedang berbicara dengan seseorang. Ayu menahan napas, berusaha berjalan cepat. Ia berhasil keluar tanpa disadari. Di dalam mobil, ia menghela napas panjang. 'Syukurlah,' gumamnya. Namun, ia tahu ini belum selesai. Ayu kembali ke apartemennya, merasa lelah dan cemas. Ia tidak bisa terus menghindar. Sementara itu, Rendra di acara amal itu masih memikirkan sosok yang ia lihat. Ia memutuskan untuk mencari tahu. Rendra menghadiri acara yang sama dengan Ayu dan hampir mengenalinya.
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!