Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Identitas Baru

631 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Pagi itu, Ayu berdiri di depan cermin kecil di apartemennya, menatap bayangan sendiri. Ia mengenakan hijab berwarna navy yang lebih longgar dari biasanya, kacamata tebal menutupi sebagian wajahnya, dan seragam kantor yang sederhana. Nama 'Dewi' tertera di kartu identitas yang ia pegang erat. Setelah nyaris dikenali Rendra di acara amal, ia memutuskan untuk memperkuat penyamarannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja di perusahaan saingan, PT Karya Mandiri, sebagai manajer keuangan. Ia harus meyakinkan semua orang bahwa ia adalah Dewi, bukan Ayu. Ia berbisik pada bayangannya, 'Aku bisa melakukan ini.' Sesampainya di kantor, Ayu disambut oleh Pak Budi, atasannya yang berbadan tegap dengan kumis tebal. Pak Budi menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. 'Jadi, kamu yang katanya lulusan terbaik? Kita lihat saja,' katanya sinis. Ia melemparkan setumpuk dokumen ke meja Ayu. 'Ini laporan keuangan tiga tahun terakhir. Aku mau kamu audit ulang dan temukan kejanggalan yang tidak ditemukan auditor kita. Kamu punya waktu sampai sore.' Ayu menahan napas. Tugas itu mustahil untuk diselesaikan dalam sehari, apalagi oleh orang baru. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia harus membuktikan diri. Dengan tenang, ia mulai memeriksa dokumen-dokumen itu. Ia menemukan pola yang mencurigakan pada pengeluaran di divisi pemasaran. Angka-angka itu tidak konsisten. Ia bekerja tanpa henti, melewatkan makan siang, hanya sesekali menyesap air putih. Saat jam menunjukkan pukul empat sore, Pak Budi datang dengan senyum mengejek. 'Sudah selesai? Atau kamu menyerah?' Ayu mengangkat kepalanya, menatap Pak Budi dengan mantap. 'Saya menemukan tiga kejanggalan, Pak. Pertama, ada pengeluaran fiktif untuk vendor yang tidak terdaftar. Kedua, ada duplikasi pembayaran untuk proyek yang sama. Ketiga, ada dana yang dipindahkan ke rekening pribadi tanpa otorisasi.' Ia menyerahkan laporan lengkap dengan bukti-bukti yang ia temukan. Pak Budi terkejut. Ia memeriksa laporan itu dengan mata terbelalak. 'Ini... ini luar biasa. Kamu benar-benar menemukannya.' Ia mengangguk pelan, 'Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak.' Pak Budi tersenyum, kali ini dengan tulus. 'Selamat datang di tim, Dewi. Kamu memang pantas berada di sini.' Setelah pengakuan itu, Pak Budi mengajak Ayu ke ruangannya dan menawarkan kopi. 'Aku minta maaf atas sikapku tadi. Aku terlalu cepat menilai,' katanya. Ayu tersenyum tipis, 'Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti.' Mereka berbincang sebentar tentang pekerjaan, dan Pak Budi mulai menghargai kemampuan Ayu. Ia bahkan meminta Ayu untuk memimpin proyek audit internal bulan depan. Ayu merasa bangga, tetapi juga waspada. Ia harus terus menjaga penyamarannya. Saat jam pulang tiba, Ayu membereskan mejanya. Ia merasa lega karena berhasil melewati hari pertama dengan sukses. Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama. Saat ia berjalan menuju lift, ia melihat seorang pria memasuki lobi. Pria itu tinggi, mengenakan jas hitam, dengan wajah tegas yang dikenalnya baik. Rendra Hartawan. Ayu membeku. Jantungnya berdebar kencang. Ia segera membalikkan badan dan bersembunyi di balik tanaman hias besar di dekat lift. Ia tidak percaya Rendra ada di gedung yang sama. Apa yang ia lakukan di sini? Ayu menahan napas, berharap Rendra tidak melihatnya. Ia mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, lalu berhenti. 'Siapa wanita itu?' suara Rendra bertanya pada seseorang. Ayu menutup mulutnya dengan tangan, berdoa agar tidak ketahuan. Ayu bersembunyi di balik tanaman, jantungnya berdebar kencang. Ia mendengar Rendra bertanya tentangnya, tetapi ia tidak bisa mendengar jawaban orang itu. Setelah beberapa saat, langkah kaki Rendra menjauh. Ayu menghela napas lega, tetapi ia tahu ia harus segera pergi. Ia menunggu beberapa menit sebelum berani keluar dari persembunyian. Ia berjalan cepat menuju tangga darurat, menghindari lift. Saat ia sampai di lantai dasar, ia melihat Rendra sedang berbicara dengan seorang pria di lobi. Ayu menunduk, berusaha tidak menarik perhatian. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun, saat ia hendak membuka pintu, ia mendengar suara Rendra memanggil, 'Tunggu!' Ayu membeku. Saat pulang, Ayu melihat Rendra memasuki gedung yang sama untuk pertemuan bisnis, membuatnya panik dan bersembunyi.
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!