📖 Suamiku Presider yang Kejam
Pujian dari Musuh
Ayu bersembunyi di balik pilar marmer yang dingin, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat Rendra berjalan melewati lobi dengan langkah tegas, ditemani beberapa pria berjas. Wajahnya datar, tetapi ada ketegangan di bahunya. Ayu menekan punggungnya ke pilar, berharap tidak terlihat.
Ia tidak menyangka akan bertemu Rendra di tempat ini. Setelah beberapa saat, Rendra dan rombongannya masuk ke lift, dan Ayu menghela napas lega. Ia bergegas menuju pintu keluar, tetapi sebelum sempat pergi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pak Budi: 'Rapat evaluasi besok siang.
Kehadiranmu wajib.' Ayu menatap layar, merasa cemas. Besok ia harus kembali ke gedung ini, dan Rendra mungkin masih ada di sana. Namun, ia tidak bisa menolak. Ia harus membuktikan dirinya.
Keesokan harinya, Ayu mengenakan hijab navy dan blazer senada, mencoba tampil profesional. Ia memasuki ruang rapat yang luas dengan jendela kaca menghadap kota. Di ujung meja, Rendra duduk sebagai mitra bisnis, dikelilingi oleh beberapa eksekutif. Ayu duduk di kursi dekat pintu, berusaha tidak mencolok.
Pak Budi memulai rapat, membahas laporan keuangan yang telah Ayu analisis. Saat tiba giliran Ayu untuk mempresentasikan temuannya, ia berdiri dengan percaya diri, menjelaskan setiap angka dengan jelas. Rendra mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk. Setelah Ayu selesai, Rendra bertepuk tangan pelan.
'Luar biasa. Analisis yang tajam dan detail. Saya jarang melihat profesional muda sekompeten ini,' katanya, menatap Ayu dengan rasa ingin tahu. Ayu tersenyum tipis, berusaha tenang.
Namun, Vera yang duduk di sebelah Rendra, menatap Ayu dengan curiga. Setelah rapat selesai, Vera menghampiri Ayu di dekat pintu. 'Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Anda terlihat familiar,' tanya Vera dengan nada manis tetapi tajam.
Ayu merasakan keringat dingin di punggungnya. 'Saya rasa tidak, Bu. Saya baru bekerja di sini,' jawabnya, berusaha terdengar natural. Vera mengerutkan kening, masih tidak yakin.
'Hmm, mungkin saya salah ingat. Selamat bekerja,' katanya, lalu berbalik pergi. Ayu menghela napas lega, tetapi hatinya tidak tenang. Kecurigaan Vera bisa menjadi masalah besar.
Setelah kejadian itu, Ayu kembali ke mejanya, mencoba fokus pada pekerjaan. Namun, pikirannya terus tertuju pada Rendra. Ia tidak bisa menyangkal bahwa pujian Rendra membuatnya merasa dihargai, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa Rendra tidak mengenalinya.
Baginya, Ayu hanyalah 'Dewi', seorang analis berbakat. Ini adalah keuntungan, tetapi juga menyakitkan. Ayu tersenyum getir. Ia memutuskan untuk menggunakan pengakuan ini untuk memperkuat posisinya.
Ia mengirim email kepada Pak Budi, meminta untuk dilibatkan dalam proyek besar yang disebutkan sebelumnya. Beberapa menit kemudian, Pak Budi membalas: 'Setujui. Kamu akan menjadi asisten manajer untuk proyek ini. Selamat.' Ayu merasa bangga.
Ini adalah langkah nyata menuju tujuannya. Ia menatap foto USG di dompetnya, berbisik, 'Kita bisa, Nak. Ibu akan membuat kita bangga.' Sore itu, saat Ayu bersiap pulang, ia melihat Vera berdiri di dekat lift, sedang berbicara dengan seorang rekan kerja. Ayu mencoba melewatinya dengan cepat, tetapi Vera menoleh dan menatapnya.
Ayu mempercepat langkah, tetapi Vera memanggilnya, 'Dewi, tunggu!' Ayu berhenti, berbalik dengan senyum kaku. 'Ya, Bu?' Vera mendekat, menatap wajah Ayu dengan saksama. 'Saya yakin kita pernah bertemu. Di mana ya?' tanyanya, dengan nada penuh selidik.
Ayu merasa jantungnya hampir berhenti. Setelah rapat, Vera mendekati 'Dewi' dan bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya, membuat Ayu nyaris terpeleset.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!