📖 Suamiku Presider yang Kejam
Detektif Bayaran
Vera menatapku dengan mata menyipit, menunggu jawaban. Aku merasakan keringat dingin mengalir di punggung. 'Mungkin kita pernah bertemu di acara seminar akuntansi tahun lalu, Bu,' kataku berusaha tenang. 'Saya sering menghadiri seminar-seminar itu.' Vera mengangguk pelan, tapi matanya masih tajam.
'Ah, mungkin. Tapi wajahmu familiar sekali.' Aku tersenyum kaku. 'Mungkin karena saya mirip orang lain, Bu.' Vera tertawa kecil, tapi tidak meyakinkan. 'Ya, mungkin.
Selamat bekerja, Dewi.' Ia berbalik dan pergi. Aku menghela napas lega, tapi tahu ini belum berakhir. Malam itu, di rumah kontrakanku yang sederhana, aku duduk di depan laptop, mencoba fokus pada laporan keuangan yang harus kuselesaikan. Tapi pikiranku terus melayang pada kecurigaan Vera.
Aku harus ekstra hati-hati. Aku membuka file laporan, meneliti setiap angka. Sebagai lulusan akuntansi terbaik, ini adalah keahlianku. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri sendiri, tanpa bergantung pada Rendra atau siapa pun.
Laporan ini adalah langkah pertamaku. Di sebuah kafe di seberang kantor, Vera duduk berhadapan dengan seorang pria bertubuh kurus berkacamata hitam. 'Saya ingin kamu menyelidiki seseorang,' kata Vera, mendorong sebuah foto ke seberang meja. Pria itu, yang bernama Joko, mengambil foto itu.
'Dewi Lestari, analis baru di perusahaan kami. Saya curiga dia menyembunyikan sesuatu.' Joko mengamati foto itu. 'Apa yang Anda ingin saya temukan?' 'Segala sesuatu. Latar belakangnya, keluarganya, masa lalunya.
Saya ingin tahu siapa dia sebenarnya.' Joko mengangguk. 'Baik, saya akan mulai malam ini.' Sementara itu, di rumah kontrakan, Ayu terus bekerja. Laporan keuangan itu rumit, tapi dia menikmatinya. Setiap angka harus akurat, setiap catatan harus jelas.
Dia ingin atasannya, Pak Budi, terkesan. Di tengah konsentrasinya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal: 'Kamu pikir kamu bisa bersembunyi? Aku akan menemukanmu.' Ayu menatap layar dengan jantung berdebar.
Siapa yang mengirim ini? Vera? Atau seseorang yang mengenalinya? Dia mencoba menenangkan diri.
Mungkin ini hanya ancaman kosong. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Beberapa jam kemudian, laporan selesai. Ayu mengirimkannya ke Pak Budi sebelum tengah malam.
Tak lama, balasan masuk: 'Bagus, Dewi. Terima kasih. Kerjamu sangat teliti.' Ayu tersenyum lega. Namun, di luar, Joko telah mulai menguntitnya.
Dari kejauhan, dia memperhatikan Ayu memasuki rumah kontrakan sederhana di pinggiran Jakarta. Dia mencatat alamatnya, lalu mengirim laporan pertama ke Vera. Keesokan paginya, di kantor, Ayu merasa lebih percaya diri. Pak Budi memanggilnya ke ruangannya.
'Dewi, saya sudah membaca laporanmu. Sangat impresif. Kamu punya masa depan cerah di sini.' Ayu tersenyum. 'Terima kasih, Pak.
Saya hanya melakukan pekerjaan saya.' 'Tidak, ini lebih dari itu. Kamu menunjukkan dedikasi dan keahlian yang luar biasa. Saya akan merekomendasikanmu untuk proyek besar yang akan datang.' Ayu merasa bangga. Ini adalah pengakuan yang selama ini dia cari.
Dia berterima kasih lagi, lalu keluar dari ruangan. Di lorong, dia berpapasan dengan Rendra. Rendra mengangguk sopan. 'Selamat pagi, Dewi.' 'Selamat pagi, Pak.' Mereka berjalan berdampingan sebentar.
'Saya dengar kamu mengerjakan laporan keuangan itu. Bagus.' Ayu terkejut. 'Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik.' Rendra menatapnya sebentar.
'Kamu mirip dengan seseorang yang saya kenal.' Ayu menahan napas. 'Oh, siapa, Pak?' Rendra menggeleng. 'Tidak penting. Semoga harimu menyenangkan.' Dia berjalan pergi.
Ayu menghela napas lega. Dia tidak bisa membiarkan Rendra mengenalinya. Namun, di sisi lain, dia merasa senang karena dihargai sebagai profesional. Ini adalah hubungan yang dia inginkan: formal, profesional, tanpa beban emosional.
Sore itu, Vera menerima laporan dari Joko. Dia membaca pesan singkat itu dengan mata membelalak. 'Dewi sering mengunjungi sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta. Alamat: Jl.
Melati No. 5, Ciputat.' Vera tersenyum sinis. Dia tahu alamat itu. Itu adalah rumah kontrakan Ayu.
'Jadi, Dewi adalah Ayu,' gumamnya. 'Aku akan menghancurkanmu.' Detektif melaporkan pada Vera bahwa 'Dewi' sering mengunjungi sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta, yang ternyata adalah tempat tinggal Ayu dan anaknya.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!