📖 Suamiku Presider yang Kejam
Malam Pertama yang Dingin
Setelah akad nikah sederhana di KUA, Ayu memasuki kamar pengantin di rumah mewah Menteng dengan hati berdebar. Rendra sudah menunggu dengan wajah dingin, dan di atas meja terdapat sebuah map berisi kontrak pernikahan. Lampu kamar temaram, hanya menyorot wajah Rendra yang tegas. Ayu merasakan dinginnya ruangan, meski malam Jakarta terasa panas.
Ia melangkah pelan, mencoba membaca situasi. Rendra tidak bergerak, hanya menatapnya dengan mata tajam. Di luar, suara kendaraan meredup, menciptakan keheningan yang menekan. Ayu mengatur napas, mencoba menenangkan diri.
Ia tahu pernikahan ini bukanlah pernikahan impian, tapi ia tidak menyangka akan sedingin ini. Ia melihat map di atas meja, dan hatinya berdebar lebih kencang. Rendra akhirnya bersuara, suaranya datar dan tanpa emosi, "Duduklah. Kita perlu bicara." Ayu menuruti, duduk di kursi di seberangnya, menjaga jarak.
Ia menunggu, tidak berani memulai pembicaraan. Rendra membuka map, mengeluarkan beberapa lembar kertas, lalu mendorongnya ke arah Ayu. "Ini kontrak pernikahan kita. Bacalah." Ayu mengambil kertas itu, tangannya sedikit gemetar.
Ia mulai membaca, matanya menyusuri setiap baris dengan cepat. Kontrak itu berisi aturan main pernikahan mereka: durasi satu tahun, tidak ada hak waris, kewajiban menjaga citra, dan perceraian otomatis setelah masa kontrak selesai. Ayu merasa dadanya sesak, tapi ia berusaha tetap tenang. Ia menyelesaikan membaca, lalu menatap Rendra yang menunggu reaksinya.
Rendra menatap Ayu dengan dingin, seolah menilai barang dagangan. "Kau pasti sudah paham. Ini pernikahan kontrak, bukan pernikahan karena cinta. Kita hanya menjalankan peran masing-masing." Ayu menelan ludah, mencoba menahan air mata yang ingin keluar.
Ia tahu ia tidak punya pilihan. Keluarganya butuh uang, dan ia harus membayar hutang. "Aku mengerti," jawabnya lirih. Rendra mengangguk, lalu melanjutkan, "Selama satu tahun, kau akan tinggal di sini, menjalankan peran sebagai istriku di depan umum.
Namun, jangan berharap lebih. Tidak ada keintiman, tidak ada perasaan. Kita hanya dua orang yang terikat kontrak." Ayu merasa dihina, tapi ia menahannya. Ia ingat alasan ia ada di sini: untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran.
Ia menarik napas dalam, lalu berkata, "Baik. Aku mengerti." Rendra mengeluarkan pulpen dari sakunya, menyerahkannya pada Ayu. "Tandatangani." Ayu menerima pulpen itu, tangannya gemetar. Ia menatap kontrak itu sekali lagi, membaca klausul yang menyatakan bahwa ia tidak berhak atas harta Rendra, dan bahwa perceraian akan terjadi secara otomatis setelah satu tahun.
Ia merasa seperti menjual hidupnya. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia menandatangani di atas kertas itu, meletakkan pulpen, dan mendorong kontrak kembali ke arah Rendra. Rendra mengambilnya, memeriksa tanda tangan Ayu, lalu menyimpannya di map.
"Bagus. Mulai sekarang, kau adalah istri kontrakku. Jangan lupa peranmu." Ia berdiri, berjalan menuju pintu. Ayu masih duduk, menatap punggungnya yang tegap.
Ia merasa sendirian, di rumah yang asing, dengan suami yang dingin. Saat Rendra membuka pintu, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh, berkata, "Kau bisa tidur di sini. Aku pindah ke kamar lain." Lalu ia keluar, menutup pintu dengan pelan. Ayu mendengar langkah kaki Rendra menjauh, lalu semuanya hening.
Ia menatap kamar mewah ini, dengan tempat tidur besar dan dekorasi elegan, tapi terasa seperti penjara. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri. Ia meletakkan tangan di perutnya, merasakan detak jantungnya sendiri. Di dalam sana, ada kehidupan kecil yang belum ia ceritakan pada siapa pun.
Ayu berbisik pelan, "Kita akan bertahan, Nak." Setelah Rendra pergi, Ayu duduk diam di tepi tempat tidur, merasakan kekosongan yang luar biasa. Ia menatap map kontrak yang masih tergeletak di meja, mengingat setiap kata yang tertulis. Ia merasa seperti barang yang diperjualbelikan, tanpa harga diri. Namun, di balik kesedihan itu, ada tekad yang tumbuh.
Ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak. Ia akan membuktikan bahwa ia berharga, meski hanya sebagai istri kontrak. Ayu berdiri, berjalan ke jendela, memandang kota Jakarta yang gemerlap di malam hari. Ia berpikir tentang masa depannya, tentang anak yang ia kandung, dan tentang bagaimana ia akan melindungi anak itu.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi ia yakin satu hal: ia akan bertahan. Ia kembali ke tempat tidur, duduk bersandar di kepala tempat tidur, memeluk lututnya. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya. Ia menangis dalam diam, melepaskan semua beban yang ia pendam.
Setelah beberapa saat, ia mengusap air matanya, bertekad untuk kuat. Ia berbaring, memejamkan mata, mencoba tidur. Namun, pikirannya terus berputar, memikirkan Rendra, kontrak, dan masa depan yang tidak pasti. Ia merasakan perutnya, membayangkan bayi di dalamnya.
Ia berbisik lagi, "Kita pasti bisa." Ia tidak tahu bagaimana, tapi ia akan berusaha. Di luar, malam semakin larut, dan Ayu akhirnya terlelap, meski tidurnya tidak nyenyak. Ia bermimpi tentang ibunya yang pergi, tentang keluarganya yang membutuhkan, dan tentang Rendra yang dingin. Namun, di dalam mimpi itu, ia melihat bayinya tersenyum, memberi harapan.
Ayu terbangun di pagi hari dengan perasaan berat. Ia masih ingat semua yang terjadi semalam. Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan menatap cermin. Wajahnya pucat, matanya bengkak karena menangis.
Ia membasuh wajahnya, mencoba menyegarkan diri. Saat ia keluar, ia mendengar suara dari lantai bawah. Ia turun, melihat Rendra sedang sarapan di meja makan. Rendra menoleh, menatapnya sekilas, lalu kembali fokus pada piringnya.
Ayu duduk di kursi seberangnya, tidak berani bicara. Seorang pelayan menyajikan sarapan untuknya. Ayu makan dalam diam, merasakan kecanggungan yang luar biasa. Setelah sarapan, Rendra berdiri, mengambil jasnya, dan berkata, "Aku pergi ke kantor.
Kau bisa melakukan apa saja, asal jangan meninggalkan rumah tanpa izin." Ayu mengangguk, tidak menjawab. Rendra pergi, meninggalkan Ayu sendirian di ruang makan yang luas. Ayu menghela napas, merasa seperti tawanan. Ia berpikir tentang pekerjaannya, tentang masa depannya, dan tentang bagaimana ia akan keluar dari situasi ini.
Ia tidak bisa hanya diam. Ia harus melakukan sesuatu. Ia ingat bahwa ia adalah lulusan akuntansi terbaik, dan ia bisa bekerja. Namun, dengan status istri kontrak, ia tidak bisa sembarangan.
Ia harus mencari cara. Ayu berdiri, berjalan ke taman belakang, menikmati udara pagi. Ia memikirkan langkah selanjutnya. Ia tidak akan menyerah.
Ia akan berjuang untuk dirinya dan anaknya. Saat Rendra meninggalkan kamar, Ayu memegang perutnya dan berbisik, 'Kita akan bertahan, Nak.'






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!