📖 Suamiku Presider yang Kejam
Kontrak yang Tak Bisa Ditolak
Pagi itu, Ayu terbangun dengan perasaan hampa. Kamar pengantin yang megah terasa asing, seperti sel yang berlapis emas. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kontrak pernikahan yang masih tergeletak di nakas. Kertas itu seperti belenggu, mengikatnya pada pria yang tak ia cintai.
Ayu menarik napas dalam, lalu membaca ulang setiap klausul. Tidak ada celah. Jika ia melanggar, ia harus mengembalikan semua uang yang telah diberikan kepada keluarganya. Dan itu mustahil.
Ia menghela napas, mengusap wajahnya. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ia harus mencari cara untuk mandiri, setidaknya untuk masa depan anaknya. Dengan tekad bulat, Ayu berdiri, merapikan pakaiannya, dan melangkah keluar kamar.
Ia menuju ruang kerja Rendra, berniat meminta izin untuk bekerja. Ia tahu ini berisiko, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ayu mengetuk pintu ruang kerja Rendra. Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras. Akhirnya, suara berat Rendra terdengar dari dalam, "Masuk." Ayu membuka pintu dan melangkah masuk. Rendra sedang duduk di belakang meja kerjanya, menatap layar laptop. Ia tidak menoleh saat Ayu masuk, hanya berkata, "Ada perlu apa?" Ayu berdiri di depan meja, mencoba menenangkan diri.
"Aku ingin bicara." Rendra mengangkat alis, menatapnya dingin. "Tentang apa?" Ayu menarik napas, lalu berkata, "Aku ingin bekerja. Aku tidak bisa hanya diam di rumah ini." Rendra menutup laptopnya, menatap Ayu dengan curiga. "Bekerja?
Untuk apa? Bukankah aku sudah memberimu uang bulanan?" Ayu menggeleng. "Uang itu bukan milikku. Aku ingin mandiri.
Aku ingin punya penghasilan sendiri." Rendra menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangan. "Apa kau pikir aku akan membiarkanmu bekerja di perusahaan saingan?" Ayu terkejut. "Aku tidak berniat bekerja di perusahaan saingan." Rendra tersenyum sinis. "Kau lulusan akuntansi terbaik.
Pasti banyak perusahaan yang mengincarmu. Tapi ingat, kau istri kontrakku. Kau tidak boleh mengungkap status pernikahan kita. Dan kau tidak boleh bekerja di perusahaan yang berhubungan dengan Hartawan Group." Ayu menahan napas.
Syarat itu berat, tetapi ia harus menerimanya. "Baik. Aku setuju." Rendra mengangguk. "Kalau begitu, kau boleh bekerja.
Tapi ingat, jika kau melanggar aturan, kontrak kita batal, dan kau harus mengembalikan semua uang yang sudah kau terima." Ayu mengangguk, merasa terpojok. "Aku mengerti." Ia berbalik untuk pergi, tetapi Rendra memanggilnya. "Satu lagi. Jangan pernah membawa masalah ke rumah ini.
Jika kau membuat skandal, kau akan menyesal." Ayu menoleh, menatap Rendra. "Aku tidak akan membuat skandal." Ia keluar dari ruangan, merasa lega tetapi juga cemas. Ia mendapat izin, tetapi dengan syarat yang membatasi. Ia harus berhati-hati.
Saat Ayu melangkah keluar dari ruang kerja, ia merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Setidaknya ia punya kesempatan untuk mandiri. Ia berjalan menuju kamarnya, merencanakan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan yang tidak berhubungan dengan Hartawan Group.
Mungkin di perusahaan kecil, atau menjadi akuntan lepas. Ia bisa memanfaatkan keahliannya. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Ia menoleh, melihat Vera berdiri di ujung lorong, tersenyum penuh arti.
Ayu merasa tidak nyaman. Vera mendekat, berkata dengan nada manis, "Selamat pagi, Nyonya Hartawan. Tampaknya kau sudah dekat dengan Tuan Rendra." Ayu menjawab datar, "Kami hanya membicarakan kontrak." Vera tersenyum lebih lebar. "Oh, begitu.
Semoga kau betah di sini." Vera melangkah pergi, tetapi tatapannya membuat Ayu merinding. Ayu menghela napas, mencoba mengabaikan firasat buruk itu. Ia kembali ke kamar, membuka laptop, dan mulai mencari lowongan pekerjaan. Ia bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun menghalangi rencananya.
Ayu sibuk melamar pekerjaan, tetapi ia tidak bisa mengabaikan tatapan Vera yang tadi. Ada sesuatu yang mengancam di balik senyum itu. Ia tahu Vera bukan sekadar sekretaris biasa. Mungkin ia memiliki hubungan khusus dengan Rendra.
Ayu menggeleng, mencoba fokus. Ia harus menyelesaikan lamarannya. Namun, saat ia menutup laptop, ia mendengar suara ketukan di pintu. Sebelum ia sempat menjawab, pintu terbuka dan Vera masuk tanpa izin.
Saat meninggalkan ruang kerja Rendra, Ayu melihat Vera menatapnya dengan senyum penuh arti.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!