📖 Suamiku Presider yang Kejam
Kecurigaan Suamiku
Pagi itu, Ayu berdiri di depan cermin kamar, menatap bayangannya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Semalam, Rendra bertanya dengan nada selidik, dan ia berhasil mengelak. Tapi hari ini, ia harus lebih berhati-hati. Ia memutuskan untuk tetap pergi ke kantor, meski tahu Rendra mungkin mengawasinya.
Di meja makan, Rendra sudah duduk dengan setelan rapi, membaca koran. Tanpa menoleh, ia berkata, "Kau pergi lagi pagi ini?"
Ayu tersenyum tipis. "Ya, ada kajian rutin di masjid dekat sini. Selesai, aku langsung pulang."
Rendra menatapnya sekilas. "Kajian? Sejak kapan kau rajin ke masjid?"
"Sejak aku menikah denganmu, Pak. Aku ingin memperbaiki diri," jawab Ayu tenang, meski dadanya berdebar.
Rendra tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali membaca koran. Ayu segera menyelesaikan sarapannya dan beranjak pergi. Di ambang pintu, ia mendengar Rendra memanggil sopirnya, Pak Slamet, dan berbisik sesuatu. Ayu tidak mendengar jelas, tapi ia merasa ada yang tidak beres.
Ia melangkah keluar, menuju mobil yang sudah disiapkan. Dari kaca spion, ia melihat Pak Slamet masuk ke mobil lain dan mengikutinya dari kejauhan. Ayu menggenggam erat tasnya, menyadari bahwa ia sedang diikuti.
Ayu memutar otak. Ia tidak bisa langsung pergi ke kantor. Jika Pak Slamet melihatnya masuk ke gedung PT Bumi Sejahtera, semua akan terbongkar. Ia harus mengalihkan perhatian.
Dengan tenang, ia meminta sopirnya berhenti di sebuah masjid besar di kawasan Menteng. "Tunggu di sini, Pak. Saya akan ikut kajian sebentar," katanya.
Sopirnya mengangguk. Ayu turun, melangkah masuk ke dalam masjid. Begitu berada di dalam, ia berjalan cepat menuju pintu belakang yang mengarah ke pasar kecil. Dari sana, ia naik ojek online menuju kantornya.
Sesampainya di PT Bumi Sejahtera, Ayu langsung menuju ruang kerjanya. Ia menyalakan komputer dan mulai bekerja, berusaha terlihat normal. Namun, pikirannya tidak tenang. Ia tahu Pak Slamet pasti melapor ke Rendra bahwa ia menghilang.
Sementara itu, di Hartawan Group, Rendra menerima laporan dari Pak Slamet. "Pak, Ibu masuk ke masjid, tapi saya tidak melihatnya keluar. Saya tunggu sampai satu jam, tidak ada."
Rendra mengerutkan kening. "Aneh. Apa yang dia sembunyikan?"
Vera yang sedang berada di ruangan itu menyahut, "Mungkin Ibu Ayu punya kegiatan lain, Pak. Saya bisa bantu selidiki."
Rendra menoleh ke arah Vera. "Tidak perlu. Aku akan urus sendiri."
Vera tersenyum manis, tapi di baliknya, ia menyimpan rencana. Ia tahu Ayu bekerja di PT Bumi Sejahtera, dan ia akan memanfaatkan acara perusahaan untuk menjebaknya.
Di kantor, Ayu bekerja dengan fokus. Ia harus menyelesaikan laporan keuangan bulanan. Namun, sesekali ia melirik ponselnya, takut ada pesan dari Rendra. Hingga sore, tidak ada kabar. Ia mulai lega, berpikir mungkin Rendra tidak terlalu curiga.
Namun, saat ia hendak pulang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rendra: "Jangan lupa, minggu depan ada acara perusahaan. Kau harus hadir."
Ayu menatap layar ponselnya. Dadanya berdebar. Acara perusahaan Hartawan Group? Itu berarti ia akan bertemu dengan banyak orang, termasuk mungkin rekan bisnis yang mengenalnya. Bagaimana jika ada yang tahu ia bekerja di perusahaan saingan?
Malam harinya, Ayu pulang ke rumah dengan perasaan was-was. Ia berusaha bersikap biasa, tapi Rendra sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya dingin, matanya tajam.
"Kau bilang pergi ke kajian, tapi sopirku bilang kau menghilang," kata Rendra tanpa basa-basi.
Ayu menahan napas. "Aku keluar sebentar untuk membeli buku, Pak. Mungkin Pak Slamet tidak melihatku."
"Buku?" Rendra menyipitkan mata. "Kau bisa beli buku di toko dekat masjid. Tapi kenapa harus pergi diam-diam?"
"Aku tidak diam-diam, Pak. Aku hanya... tidak ingin diganggu," jawab Ayu, berusaha tenang.
Rendra berdiri, mendekatinya. "Aku tidak suka dibohongi, Ayu. Kau istriku, meski kontrak. Jangan buat masalah."
Ayu menunduk, merasa tertekan. Ia ingin membantah, tapi takut memperburuk keadaan. Ia hanya berkata, "Maaf, Pak. Aku tidak bermaksud mengecewakan."
Rendra menatapnya lama, lalu berbalik. "Minggu depan ada acara perusahaan. Kau harus hadir. Jangan buat aku malu."
Ayu mengangguk, meski hatinya berdebar. Ia tahu ini kesempatan untuk membuktikan dirinya, tapi juga bahaya besar. Jika identitasnya terbongkar, semua akan hancur.
Setelah Rendra pergi, Ayu masuk ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus lebih berhati-hati. Mungkin ia harus berhenti bekerja, tapi ia tidak bisa. Ia butuh uang untuk masa depannya dan anaknya.
Ia membuka lemari, mengambil buku tabungannya. Melihat angka di dalamnya, ia merasa sedikit tenang. Ini bukti bahwa ia bisa mandiri. Ia bertekad untuk terus berjuang, apa pun risikonya.
Ayu menyimpan kembali buku tabungannya. Ia menarik napas, berusaha menenangkan diri. Namun, pikirannya melayang pada acara perusahaan minggu depan. Ia harus siap menghadapi apa pun yang terjadi.
Malamnya, Rendra mengumumkan akan membawa Ayu ke acara perusahaan Hartawan Group minggu depan.






💬 Reader Comments
Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!