Home Latest Popular Genres Analysis About
📚 My Bookshelf ⏳ Reading History Log In Sign Up
📖 Suamiku Presider yang Kejam

Panggilan dari Sekolah

710 words

← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
Ayu masih merasakan getir di dadanya saat mengingat senyum sinis Vera di lobi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri di balik layar komputernya. Pikirannya melayang pada pertemuan yang dijanjikan besok. Ia tahu itu bukan sekadar ajakan ramah. Vera pasti punya rencana. Ayu menggenggam erat pulpen di tangannya, merasakan ujungnya menekan telapak tangan. Ia harus siap. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kehidupan yang telah ia bangun dengan susah payah. Ia kembali fokus pada laporan keuangan di depannya, tetapi matanya tidak benar-benar membaca angka-angka itu. Pikirannya berputar mencari strategi. Bagaimana cara menghadapi Vera tanpa menimbulkan kecurigaan? Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Ayu ragu, tetapi tetap mengangkatnya. "Bu Dewi? Ini dari sekolah. Anak Ibu demam tinggi, kami mohon Ibu segera menjemput." Jantung Ayu berdebar kencang. Ia langsung berdiri, meraih tasnya, dan berjalan cepat menuju ruang Pak Budi. "Pak, saya minta izin. Anak saya sakit, harus segera menjemput," katanya dengan suara bergetar. Pak Budi mengerutkan kening. "Ini jam kerja, Bu Dewi. Ada laporan yang harus selesai hari ini." Ayu menunduk, merasa bersalah, tetapi tidak bisa menunda. "Saya mohon, Pak. Ini darurat. Saya akan mengganti waktu lembur nanti malam." Pak Budi menghela napas panjang. "Baiklah, tapi saya catat ini. Jangan sampai terulang." Ayu mengucapkan terima kasih dan segera meluncur keluar. Di koridor, ia hampir bertabrakan dengan Vera yang baru keluar dari ruang rapat. "Oh, Bu Dewi. Tergesa-gesa sekali. Ada apa?" tanya Vera dengan nada manis. Ayu menjawab singkat, "Ada urusan keluarga." Tanpa menunggu reaksi, ia bergegas menuju lift. Di belakangnya, Vera menatap dengan tatapan curiga. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor. "Sari, cari tahu ke mana Bu Dewi pergi. Sekarang." Sementara itu, Ayu sudah sampai di sekolah. Anaknya, Bima, terbaring lemas di ruang UKS dengan wajah pucat. Ayu langsung memeluknya. "Maafkan Mama, Nak. Mama di sini sekarang." Ia membawa Bima ke klinik terdekat. Di sana, dokter memeriksa dan memberi obat. Ayu duduk di samping ranjang, memegang tangan kecil Bima yang panas. Ia merasa bersalah karena harus bekerja dan meninggalkan anaknya. Namun, ia juga tahu ia harus bekerja untuk masa depan mereka. Di kantor, Pak Budi melaporkan ketidakhadiran Ayu ke manajemen. Vera mendengar dari Sari bahwa Ayu pergi ke sekolah. Vera tersenyum tipis. "Jadi dia punya anak? Menarik." Ia mulai menyusun rencana untuk menyelidiki lebih dalam. Di klinik, suasana tenang dengan aroma obat dan desinfektan. Bima tertidur setelah diberi obat penurun panas. Ayu mengelus rambutnya, merasakan kehangatan yang menenangkan. Ia bersyukur bisa berada di sini, meskipun harus meninggalkan pekerjaan. Ia berpikir tentang Rendra, suaminya yang dingin. Ia tidak pernah peduli pada anaknya. Baginya, pernikahan ini hanya formalitas. Ayu tidak mengharapkan apa pun darinya. Yang penting, ia bisa melindungi Bima. Ia bertekad untuk bekerja lebih keras, menabung lebih banyak, agar suatu hari bisa mandiri. Ia tidak akan selamanya bergantung pada kontrak yang mengikatnya. Tiba-tiba, seorang perawat masuk membawa termometer. "Bu, saya mau periksa suhu anak Ibu lagi," katanya ramah. Ayu mengangguk. Perawat itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum. "Maaf, Bu, wajah Ibu familiar. Apa Ibu dulu tinggal di daerah Pasar Minggu?" Ayu terkejut. Ia menoleh dan menatap perawat itu lebih dekat. "Mbak Rina?" tanyanya tidak percaya. Perawat itu tersenyum lebar. "Ya, saya Rina. Kamu Ayu, kan? Teman sekelas SD dulu. Sudah lama tidak bertemu. Kamu sekarang tinggal di mana?" Ayu merasakan dadanya berdebar. Ia tidak ingin dikenali. Identitasnya sebagai Dewi harus dijaga. Namun, di depan Mbak Rina, ia tidak bisa berbohong. "Saya... saya sekarang kerja di Jakarta," jawabnya ragu. Mbak Rina tersenyum, "Oh, bagus. Kamu dulu kan pinter. Jadi apa sekarang?" Ayu mencoba tersenyum, "Saya kerja di perusahaan. Ini anak saya, Bima." Mbak Rina mengangguk, "Anakmu ganteng. Kalau butuh bantuan, bilang saja." Ayu mengucapkan terima kasih, tetapi hatinya tidak tenang. Mbak Rina adalah tetangga lamanya yang tahu tentang keluarganya. Jika ia berbicara dengan orang lain, identitas Ayu bisa terbongkar. Ia harus berhati-hati. Mbak Rina tersenyum ramah, tetapi Ayu merasakan kekhawatiran yang mendalam. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun tahu tentang masa lalunya. Ia berpikir cepat untuk mengalihkan pembicaraan, tetapi Mbak Rina sudah bertanya, "Kamu masih ingat Bu Sari, tetangga kita dulu? Dia sering nanya tentang kamu." Ayu meneguk ludah. Ia harus mengakhiri percakapan ini secepatnya. Saat di klinik, Ayu bertemu dengan seorang perawat yang ternyata adalah tetangga lamanya di kampung, yang bisa mengenalinya dan membocorkan identitas aslinya.
← Previous Chapter📑 ContentsNext Chapter →
🐦 Twitter 💬 Facebook

💬 Reader Comments

Comments are coming soon. Join the discussion about Suamiku Presider yang Kejam!